Juli 4, 2026

Program RJIT, Kelompok Tani “Hegar” Teritih Ngumpet Saat Hendak Dikonfirmasi Wartawan, Ada Apa?

Serang, bantenreformasi.com – Program Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) di Kampung Kubang Semar, Kelurahan Teritih, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, yang saat ini sedang dikerjakan dan hampir rampung, menjadi sorotan publik. Pasalnya, proyek senilai Rp100 juta tersebut diduga bermasalah: ketua kelompok tani tidak pernah terlihat di lokasi, bahkan menghindar saat hendak diwawancarai wartawan tanpa alasan yang jelas.

Berdasarkan papan informasi di lokasi, proyek ini dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kementerian Pertanian dengan nilai Rp100 juta, dan dikerjakan oleh Kelompok Tani “Hegar”.

 

Saat dikonfirmasi di lapangan, para pekerja menyebutkan bahwa ketua kelompok tani adalah Bapak Arpai, namun ia tidak berada di lokasi saat itu.

“Kami sudah bekerja hampir satu bulan, berjumlah 10 orang. Sampai saat ini besaran upah belum ditentukan. Pengerjaan meliputi saluran sepanjang 144 meter, dengan lebar pondasi bagian atas 30 sentimeter, bagian bawah 40 sentimeter, dan tinggi 70 sentimeter. Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi Bapak Arpai, rumahnya ada di dekat tempat penyimpanan semen,” ujar salah satu pekerja pada Senin, 22 Juni 2026.

 

Sementara itu, Irwan, Penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Walantaka, tampak kebingungan ketika ditanya mengenai siapa ketua Kelompok Tani “Hegar”.

 

“Kalau Kelompok Tani Mekar, ketuanya Haji Markusen, sekarang diteruskan oleh anaknya, Taufik. Tapi untuk Kelompok Tani ‘Hegar’… siapa ya?” tanyanya balik tanpa memberikan jawaban pasti, hanya terdiam dan memandang penanya.

 

Di sisi lain, Jupran selaku Kepala Kelurahan Teritih, saat dihubungi melalui pesan singkat WhatsApp, mengaku tidak mengetahui dan menyatakan hal tersebut bukan urusannya.

 

“Seringkali orang berpura-pura tidak tahu padahal sebenarnya paham. Banyak juga yang bertanya soal ini kepada saya. Tapi ini bukan urusan saya. Ada penyuluhnya, yaitu Pak Irwan, silakan tanya langsung kepada beliau. Atau bisa juga bertanya ke RT setempat,” jelasnya.

 

Terpisah, Mira selaku anggota tim pemantau, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat mengenai keberadaan dan kepengurusan Kelompok Tani “Hegar”, tidak memberikan tanggapan apa pun atau memilih bungkam.

 

Namun menurut keterangan sumber yang tidak ingin disebutkan identitasnya, sebenarnya kepengurusan Kelompok Tani “Hegar” belum mengalami perubahan. Awalnya dipimpin oleh Haji Markusen, setelah beliau meninggal dunia, posisi tersebut diteruskan oleh anaknya, Taufik. Namun kondisi yang tercatat maupun terlihat di lapangan tampak berbeda dari keterangan tersebut.

 

 

 

Pesan Tegas untuk Para Pemangku Kebijakan

 

Sikap bungkam, menghindar, maupun saling lempar tanggung jawab saat dimintai keterangan oleh wartawan, memperlihatkan ketidakseriusan dan ketidaktransparanan dalam mengelola program yang bersumber dari uang rakyat. Perlu disadari, proyek ini bukanlah modal pribadi, melainkan amanah dari negara yang diperuntukkan bagi kesejahteraan petani dan kemajuan daerah.

 

Sangat disayangkan jika ada oknum pemangku kebijakan maupun pengelola program yang hanya memikirkan keuntungan pribadi atau kelompok semata, tanpa memedulikan apakah pekerjaan berjalan sesuai aturan, tepat sasaran, dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Keengganan memberikan penjelasan yang jujur dan terbuka justru menimbulkan kecurigaan publik bahwa ada hal-hal yang sengaja disembunyikan.

 

Wartawan hadir bukan untuk mencari kesalahan semata, melainkan memastikan anggaran negara digunakan sebagaimana mestinya. Sudah selayaknya setiap pihak yang diberi amanah berani bertanggung jawab, menjawab pertanyaan dengan jujur, dan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Jika sikap seperti ini terus dibiarkan, kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan program pembangunan akan semakin luntur.( red).

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *